KISAH DI HUTAN BELANTARA
Hampir delapan puluh tahun setelah dikembanggkannya tes kecerdasan yang pertama yakni IQ, psikolog Harvard ,
Kedelapan kecerdasan tersebut adalah ;
1. Kecerdasan Linguistik
2. Kecerdasan Mamtematis-Logis
3. Kecerdasan Spasial
4. Kecerdasan Kinestetik-jasmani
5. Kecerdasan Musikal
6. Kecerdasan Intrpersonal
7. Kecerdasan Intrapersonal
8. Kecerdasan Naturalis
+ Kecerdasan Spiritual
Hasil penelitian menunjukkan jika kecerdasan ini ditumbuhkan, dikembangkan dan dilibatkan dalam proses pembelajaran, maka sangat meningkatkan efektifitas dan hasil pembelajaran. Tentang kecerdasan ini sudah banyak buku-buku yang telah diterbitkan sehingga kita mudah mencari referensi tentang kecerdasan tersebut. Pada buku ini saya akan mencoba menjelasan dari sisi dimana kecerdasan ini dapat di aplikasikan pada saat guru mengajar sehingga proses belajar mengajar akan lebih bermakna.
Di bawah ini saya tuliskan suatu kisah fiktif. Kisah sekelompok hewan di hutan belantara.
Kisah di Hutan Belantara
Di sebuah hutan belantara tinggal berbagai macam binatang, dari mulai hewan kecil sampai hewan besar. Mereka hidup rukun dan damai. Mereka hidup sesuai kebiasaan mereka masing-masing, sampai suatu ketika seekor singa si raja hutan menyampaikan idenya. Seluruh satwa dikumpulkan dan si raja hutan pun menyampaikan gagasannya, “ wahai seluruh penghuni hutan sudah saatnya kita melakukan sesuatu yang dapat memberikan perubahan terhadap kehidupan kita, kita harus mampu menguasai berbagai keterampilan, tidak hanya satu keterampilan yang kita miliki. Si elang tidak hanya pandai terbang, si kucing tidak hanya pandai berlari, tapi kita semua dapat melakukan apa saja yang kita ingin lakukan, dapat terbang, dapat berenang dapat berlari atau mendaki. Aku akan membuat sebuah sekolah yang bernama sekolah satwa.”. semua hewan bersorai sorai menyambut gagasan si raja hutan tersebut, walau di antara mereka masih ada yang nampak bingung bagaimana hal itu bisa dilaksanakan. Setelah itu semua kembali bubar. Sambil menuju tempatnya masing-masing, mereka tidak henti-hentinya membicarakan apa yang baru mereka dapatkan.
Pada saat yang telah ditentukan semua hewan berkumpul kembali. Sang raja hutanpun di bantu burung hantu membagi kelompok untuk pelaksanaan kegiatan belajar mengajar.
Semua tampak antusias untuk mengikuti sekolah satwa tersebut, mereka mengikuti intruksi yang diberikan si raja hutan. Dari setiap perwakilan hewan di pilih satu ekor hewan sebagai guru untuk setiap kelas, ada kelas terbang, kelas mendaki, kelas berenang, kelas berlari dan lainnya. Semua hewan harus masuk ke semua kelas dan di atur berdasarkan jadwal yang sudah ditentukan.
Hari pertama semua hewan tampak bergembira karena mereka sudah dapat membayangkan bagaimana seandai mereka bisa terbang, berenang, berkicau dan lainnya.
Hari-hari berikutnya ada beberapa hewan yang mulai bingung dan cenderung diam. Hari itu si kucing masuk ke ruang kelas berenang. Kucing sudah mencoba mengikuti petunjuk bebek yang begitu semangat membimbingnya. Tapi kucing tampak kesulitan sehingga pelajaran berenang di jadikan PR oleh si bebek. Di kelas lain si elang terlihat kesulitan, ia harus mengikuti kelas melompat yang di bimbing si katak. Beberapa kali ia mencoba tapi ia gagal terus, bukannya melompat tapi ia terbang karena sayapnya selalu reflek mengepak pada saat kakinya tidak menapak di tanah. Ia pun purtasi. Pengalaman tersebut tidak hanya di alami oleh kucing dan elang tapi juga di alami oleh hewan lain.
Bebek bingung karena ia harus belajar terbang, mendaki dan melompat. Si kura-kura harus belajar berlari dan berkicau, si ayam harus belajar mengaum seperti harimau, si gajah harus belajar merayap...
Itulah hari demi hari tampak diwajah para penghuni hutan tersebut terlihat murung dan bingung. Setiap hari ia harus belajar apa yang selama ini tidak pernah di lakukannya, sehingga banyak menyita waktu mereka untuk melakukan aktifitas sebagaimana mereka lakukan sebelum bersekolah. Elang tidak pernah lagi mencoba untuk terbang, bebek lupa bagaimana ia berenang, si kucing enggan untuk berlari,, si burung ........ tidak lagi berkicau, moyetpun malas untuk
melompat dari ranting ke ranting lainnya, ayam tak pernah berkotek dia sibuk mempelajari bagaimana suaranya biar seperti harimau.
Sebulan telah dilaksanakan, penghuni hutan semakin bingung dan akhirnya mereka sepakat untuk bertemu dengan singa si raja hutan, untuk menyampaikan keluhannya. Semua hewan berkumpul. Beruang mencoba untuk mulai berbicara. Dia menyampikan apa yang ia rasakan selama ini, dilanjutkan dengan beberapa hewan lainnya, monyet, ayam, gajah, ular menyampiakan hal yang sama. Si raja hutanpun mendengarkan dengan seksama dan ia sedikitpun tidak membantah apalagi marah, karena ia pun mersakan hal yang sama. Setelah semua berbicara singa pun berkata.” wahai hewan penghuni hutan aku sudah mendengar keluhan kalian, apa yang kalian rasakan sesungguhnya akupun merasakannya. Untuk itu mulai hari ini sekolah satwa di tutup, kembalilah kalian dengan aktifitas sebagaimana kalian belum bersekolah. Kita semua memiliki potensi dan keterampilan masing-masning. Jaga dan rawatlah keahlian kalian masing-masing. Aku sudah rindu mendengar kicauan burung-burung yang selama ini hilang suaranya, aku rindu melihat elang terbang tinggi di awan, aku rindu melihat sahabatku monyet melompat dari ranting ke ranting lainnya. Demikian akhirnya sekolah tersebut di tutup dan semua tampak bergembira.
Semoga kisah ini membawa inspirasi bagi anda para guru. Betapa pentingnya mengetahui kelebihan dan kekurangan anak didik kita. Selamat dan sukses untuk guru Indonesia.
Sumber :
Genius Learning Strategi, penulis Adi W.Gunawan
Harun Yahya
